Justofeel : Hidup adalah Percaya, Rasa, dan Cinta. Sebagian orang hidup di kenyataan ini tak mengerti akan apa sebenarnya maksud dan tujuan. Mereka hanya mengalir dalam selokan-selokan yang telah terbuat tanpa tahu bagaimana untuk memulai, mereka hanya memakai. Ketahuilah dirimu dengan tahu dan dalami tentang ke-Tuhan-an, Perasaan, dan Cinta. Dan saat kau tahu dan dapati semua itu, itulah hidup. Dan sekarang Justofeel dengan wajah baru,Justofeel Indonesia mencoba mencari nafas baru dalam hiruk pikuk dunia yang mulai membosankan. Semoga semuanya menjadi lebih baik, lebih indah, lebih mendamaikan. Happy Birthday to shaera on July. Semoga damai menjadi selimutmu di sana

Haruskah lagi ku ungkap tanya, 'kenapa..?'

Kegelisahan itu kembali meraung di sela hari yang membakar, terisak disaat siang terhapus senja. Dalam setiap pandang hanyalah bayang kenang. Akan canda, tawa, tangis, harapan, cita bersama, cerita, dan asa hari esok. Tiap sudut dunia seakan masih nyata. Tiap sudut dunia seakan masih kemarin pagi. Dan setiap sudut dunia seakan masih ada kamu di situ. Adakah kerinduan yang mampu menggambarkan apa yang dirasa hati ini?? Atau haruskah lagi ku ungkap tanya, "Kenapa?".

Apa nama rasa ini?

Dalam gema dalam alunan, semua bersenandung keagungan.
Dalam merdu dalam takbir, dunia mendendang kebesaran.

Adakah kemarau yang tak rindu akan hujan?
Adakah yang benar bahagia saat nyata tak bisa berbagi pada yang tercinta?

Bila bahasa dunia tak ikut bicara, telah bersungkur ku di pusara mu.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

"Seiring fajar menyingsing dan mentari temaram di ufuk barat, gema adzan dan gemuruh bedug bergema di surau dan masjid tuk menyambut bulan ramadhan telah tiba. Hanya keikhlasan dan ketulusan untuk memaafkan kiranya dapat menyempurnakan ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa. . . . ." @Brother in Ausi, by aiRa@---

Tiadakah apa itu kedamaian yang nyata?

Beberapa angka tanggal telah terganti dalam penambahan, dan mulai kembali dengan angka satu untuk bulan yang baru. Matahari tak pernah terbit seakan. Hanya suara desir pagi serta kicauan burung disaat fajar atau senja hari yang bernyanyi. Siangku tersingkap diantara bayang hitam serta ringkuk tubuh laksana tiada asa. Tapi kala bintang bersinar dalam kerlip, mata tiada pernah henti terjaga. Menyaksikan dunia yang seakan tak pernah henti buat tangisan, buat kepedihan dalam rasa. Tangis karena cinta, tangis karena dunia, atau tangis karena Yang Kuasa. Dengan rasa yang dalam terkadang terpikir, apakah hanya dengan tangis kita bisa merasakan dengan benar apa itu ketawa? Apakah hanya dengan sakit kita bisa merasakan apa itu nikmat sehat? Apakah hanya dengan marah kita bisa merasakan indahnya kebersamaan? Apakah hanya dengan perang kita akan mendapatkan apa itu perdamaian? Dan apakah hanya dengan perpisahan atau bahkan kematian kita akan tahu bagaimana begitu indah serta rindunya saat-saat kebersamaan??

Jogja kembali dalam tirai rintik


Mendung kembali dalam nantian hari. Rintik kembali membuat tirai diantara hari yang kian lama terasa sesak oleh kemunafikan dunia. Apa salah aku bertanya, kenapa KAU pisahkan kita? Aku hanya manusia biasa dengan harap serta mimpi sederhana. Bersamamu dalam kedamaian, bersama dalam kesederhanaan. Apa aku salah bertanya, apa sebenarnya rencana-MU? Aku hanya manusia lemah dalam kesendirian hati. Apa kesederhanaanku terlalu susah untuk-MU? Apa aku salah bertanya seperti itu? Dalam tirai rintik sungguh ku katakan aku rindu dengan tawa, canda, tangis dan ngambek mu.

Dalam baring sendiri mataku menitik...

Terkadang aku bertanya dalam fikir. Apakah aku musti menghentikan langkah yang telah membawaku ke tanah jogja. Apa aku musti mengakhiri harapan serta mimpi yang selalu aku impi dan harapkan dalam tiap detak nadiku, dalam tiap jejak kaki. Aku tak apa-apa jika aku emang tidak bisa menjadi suatu apa, menjadi orang. Asal kan aku tidak lagi membuat celah untuk air mata yang mengalir akan ibu. Langkahku ke jogja ternyata membuat banyak tetes mata yang terlalu sayang untukku. Aku emang sudah tua, dan tak sepantasnya selalu meminta akan suatu apa. Tapi aku tak pernah sedikitpun dalam hati berkeinginan membuat orang-orang yang aku sayangi menangis. Aku cuma pengen bilang, aku sangat sayang ibu, aku kangen sama ibu. Aku kangen rumah, aku kangen semua dengan kesederhanaan yang ada. Itu yang aku rasa.

Apa itu asa?

Mengiring dalam langkah hati..lembut bayu masih menabur dalam diri ari..dalam diri hati... Tapi apa itu asa.. Apa itu harapan.. Apa arti asa, harapan, jika yang terharap, yang tunggu telah pergi untuk selamanya.. Apa arti harapan itu dalam cinta.. Apa itu, kini aku tak tahu.... Dan rasa tulus tanpa syaratku akan selalu terhatur untuk mu yang kini damai di sana...

Pergi akan harap, pulang dalam gersang

Aku pergi dengan membawa sejuta harapan dalam hati akan perasaan yang tak terbendung akan satu pertemuan. Dan kini aku akan pulang membawa satu kepedihan rasa yang tak tahu kenapa. Dan lagi hati membolak-balikkan perasaan manusia akan sesuatu yang pada masanya mencari akan satu kedamaian. Aku tak pernah tahu akan dia. Aku tak pernah melihat akan rupa yang terbayang dalam pertemuan, meski itu hanya membayang. Dan dalam kegersangan hati aku kembali dengan harapan yang kosong tanpa jumpa. Mimpi ini masih akan terus menjadi mimpi, hingga pagi membuatku terjaga dalam kenyataan dunia. Aku masih menunggu.

Senja ini kembali tersenyum

Cahaya emas melukis pada sisi-sisi kota ini. Tersapu akan dinding dunia dalam kemerduan suasana. Nampak langit dalam indah lukisan Tuhan, sejukkan hati yang terasa gersang. Tapi senja ini seakan lain dari kemarin. Kecerahan juga nampak pada seluruh wajah dunia. Tersenyum dalam kelegaan yang teramat. Aku tak tahu ada apa lagi dengan semua ini. Dan senja yang telah sedikit bergulir ini semua terjawab sudah. Satu keindahan, satu kelegaan, satu kedamaian yang teramat sangat telah menjadi satu pernyataan dunia. Satu rasa menyentuh lembut kalbu ini. Satu penantian akan segera terjawab. Terjawab dalam kenyataan, bukan hanya seperti malam-malam sebelumnya, yang hanya berbayang dalam hangat hati ini. Do'a dan do'a selalu terhatur, janganlah ini lagi tertunda dalam jeda. Rasa ini teramat pekat untuk dipendam. Rasa akan terus mengalun dalamnya hati, dalam dunia ini, untuk dia atas nama Shaera.

Hari kembali rintik keharuan

Pucat langit kembali hiasi langit Yogyakarta. Hujan keheningan seketika penuhi angkasa. Saat remang mulai turun di ujung senja, senyap mulai menyergap tanpa ampun. Rintik mulai menghujam dengan ribu-ribu keseduan. Kelabu tak pernah lama hilang dari langit Tuhan, dan kebisuan kembali berteriak diantara pekik-pekik malam sendiri. Haru sesaat mengalir dalam deras aliran. Dan kabut pun menutup malam dalam kesamaran rupa. Semua serasa suram saat akan apa yang begitu sangat dinanti berucap "...tidak jadi...". Seakan mimpi hilang saat keterjagaan menggugah malam. Rasa ini begitu pekat mengharap kedatangannya. Menanti bidadari diri yang belum pernah terbayang mata terlihat hati. Aku sungguh ingin bersama denganmu, Kesempurnaan, bila itu benar arti Shaera.

Hari melaju pada waktu yang baru

Hari berganti malam saat senja telah menyapa dalam warna merah langit. Malam menjadi pagi saat fajar menyingsing di ufuk timur bersama kecerahan cahaya langit yang terkadang menyilaukan. Semua seakan enggan tuk sejenak terhenti menikmati sedikitnya waktu untuk dapat memandang semua ini. Semua mengalun dalam irama perubahan. Entah itu menjadi lebih baik, sama saja, atau tidak terlalu baik. Tapi apalah kriteria kebaikan saat hati tak lagi peduli akan sesama. Meski semua serasa ikut mengalir dalam selokan-selokan kehidupan, ada hal-hal yang akan selalu sama dalam dunia ini. Sebuah rasa yang tak kan terganti meski matahari telah bersiap dalam peraduan gelap malam, meski sunrise telah beranjak dari keindahan di ujung perbatasan. Satu do'a akan selalu terhatur dalam simpuh akan-Nya untuk kesembuhan, untuk kesehatanmu. Dan semua akan kembali dalam senyum bahagia. Yogyakarta merindumu.